Pusat Penelitian dan Pengembangan Produktivitas Usaha Kecil dan Menengah Aceh

   
   
Pilih Bahasa

13 Desember 2015

P4UA DAN TARGET GEMARIKAN

Pusat Penelitian dan Pengembangan Produktivitas UKM Aceh (P4UA) binaan Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk Aceh sejak dibentuk 15 September 2015, mulai membangun suatu image kepada masyarakat bahwa mengkonsumsi ikan adalah cermin dari kepeloporan, gaya hidup sehat, dan berbagai ciri masyarakat modern lainnya. Hal ini tidak berlebihan, karena pada ikan banyak sekali tedapat kandungan gizi berupa omega- 3, 6 dan 9, protein, vitamin, mineral dan asam lemak tak jenuh (High Density Lipoprotein/HDL).
Sebagai contoh, omega 3 membantu perkembangan mata, otak dan jaringan syaraf, sedangkan omega 6 mengandung GLA (Gamma Linolenic Acid) penting untuk fungsi endokrin dan hormonal, sementara omega 9 mengandung asam Oleic untuk meringankan gejala peradangan sendi (arthitis), menjaga stabilitas kolestrol.
Selanjutnya, protein merupakan zat pembangun, lebih mudah dicerna, mengandung asam amino paling lengkap terutama lysine dan treonine.  Selain itu, ikan juga mengandung : (1) vitamin A yang berfungsi sebagai antioksidan dan menjaga kesehatan mata, (2) vitamin B6 berfungsi meningkatkan metabolism asam amino dan lemak, mencegah anemia dan kerusakan syaraf, (3) vitamin D berguna meningkatkan metabolism kalsium untuk pertumbuhan tulang dan (4) vitamin B12 berfungsi membantu pembentukan sel darah merah, membantu metabolism lemak dan melindungi jantung.
Ikan juga mengandung meniral yang berbentuk (1) zat besi, berguna membantu pembentukan sel darah merah, (2) yodium, mencegah penyakit gondok, (3) seng, membantu kerja enzim dan hormone, (4) selenium, sebagai antioksidan dan (5) fluor, menjaga kesehatan gigi.  Terakhir, ikan mengandung asam lemak tak jenuh; merupakan kolesterol baik yang dapat mencegah terjadinya penyumbatan pembuluh darah (Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan KKP, 2015).
Kaitan dengan itu, di pelabuhan ikan Gampong Baroe Kota Idie Rayeuk Kab. Aceh Timur, sejak 2 (dua) tahun yang lalu telah dibangun cold storage.  Ini merupakan sebuah bentuk kepedulian dari salah seorang pengusaha ikan guna terbangun image masyarakat Aceh untuk dapat mengkonsumsi ikan sebanyak-banyaknya, disamping bisnis ikan juga dijalankan. Apabila image ini telah terbangun pada anak bangsa, maka kandungan gizi berupa omega- 3, 6 dan 9, protein, vitamin, mineral dan asam lemak tak jenuh (High Density Lipoprotein/HDL) dapat terpenuhi.
Bisa dibayangkan, cold storage dengan kapasitas penampungan ikan 300 ton tidak hanya mendapatkan ikan segar bagi masyarakat Aceh dan Sumatera, namun banyak para nelayan dan petani tambak Aceh, khususnya di Aceh Timur terjadi peningkatan ekonomi keluarganya dengan cara mencari, memelihara dan menjual hasil tangkapannya ke rumah pembeku tersebut.
Sebagai contoh, awal November 2015 salah seorang pengusaha ikan dan hasil laut di Bekasi, berkunjung ke Aceh atas permintaan P4UA untuk melihat langsung hasil ikan laut dan bandeng di Aceh. Beliau sangat senang dan  makan bersama, dimana lauknya adalah ikan bandeng yang baru di panen di tambak masyarakat. Sesudah direbus sebagai pembuktian, ternyata ikan bandeng di Aceh sangat manis, lemak dan tanpa bau lumpur. Saat itu juga pengusaha dari Bekasi itu memutuskan untuk mengambil ikan bandeng dari Aceh sebanyak 200 ton per bulan dengan berbagai ukuran; 4 - 6 ekor per kg, 6 - 8 ekor per kg dan 8 - 10 ekor per kg.
Dua minggu sesudah itu, P4UA juga menerima telepon dari salah seorang pengusaha ikan pindang di Kota Kerawang.  Beliau meminta bandeng dari Aceh sebanyak 150 ton per bulan dengan ukuran yang sama seperti permintaan Kota Bekasi.
Untuk memenuhi permintaan ikan dari berbagai perusahan di pulau Jawa, tentu kami  P4UA tidak dapat bekerja sendiri.  Kami perlu bekerjasama dengan pemilik cold storage di Kota Idi agar ikan yang terkumpul dari berbagai daerah di Aceh berupa ikan laut atau bandeng dapat dibekukan sebelum dikirim ke Pulau Jawa.
Betul memang, di satu sisi membawa keberuntungan bagi petani tambak, namun di sisi lain mereka kesulitan mendapatkan modal untuk membeli nener, pupuk, pakan dan obat-obatan. P4UA memberi solusi dengan cara menggalang dana dalam skala kecil, dengan kekuatan beberapa pengurus dan sahabat lainnya untuk selanjutnya kami berikan kepada petani tambak di Cinta Raja Kota Langsa Aceh. Tetapi solusi itu ibarat setetes air tawar yang dituangkan ke laut, ada tapi tak terasa.
Melalui tulisan ini, P4UA menghimbau pemerintah khususnya dinas terkait dan lembaga keuangan lainnya mari bersama-sama untuk memikirkan nasib mereka para nelayan dan petani tambak di Aceh.  Kami telah membuka pasar hingga ke Pulau Jawa dan kami juga sudah bekerjasama dengan pemilik cold strorage di Idi, selebihnya terpulang kepada kita sebagai pemimpin mereka.  Mereka berharap… mereka kadang-kadang menangis.  Mereka orang kita, saudara kita, keluarga kita bahkan mereka juga sebagai pejuang kita.

Ditulis oleh : Sekretaris P4UA Drs. Zulkarnaini, M.Si; call pearson 081362211936, e-mail: galaksijoel@gmail.com dan pin BBM: 7EA35F0A, (Desember, 2015).

P4UA PEDULI

Setelah ada titik pencapaian keberhasilan baik sebelum dan sesudah P4UA lahir, terkait: (1) memelihara ayam potong di Kota Jantho, (2) memberdayakan kelompok Arizka terkait pengolahan minuman dan makanan berbahan baku rumput laut, (3) mengirim ikan asin yang sudah dikemas, abon dari ikan kambing-kambing/leubim, ikan kayu, (4) terwujudnya kesepakatan atau tanda tangan kerjasama dengan sebuah perusahaan ikan dan seafood di Bekasi terkait penerimaan ikan bandeng dari Aceh sebanyak 150 - 200 ton per bulan, (5) terbentunya kerjasama budidaya bandeng di Langsa Aceh Timur, (6) terlaksananya program sosialisasi bandeng dari Aceh Tamiang sampai dengan Bireun (Aceh Jeumpa) dan (7) pengadaan nener (bibit) bandeng, pupuk dan obat-obatan untuk 17 ha tambak/neuheun di Desa Cinta Raja Kota Langsa, Aceh Timur, (8) menjadi pelayanan kegiatan pemasaran produk makanan dan minuman berbasis rumput laut yang diproduksi oleh CV. Na Rahmat Kota Idi  melalui marketing online, (9) kerjasama dengan CV Na Rahmat terkait penerimaan ayam potong dari unit usaha produktif P4UA yang digunakan sebagai bahan dasar bakso, otak-otak, barger, dimsum, somai, empek-empek dan sebagainya. Terakhir atau yang ke-10 adalah P4UA ingin menjalin kerjasama – secara lisan sudah ada lampu hijau-- dengan perusahaan besar di Kota Kerawang dalam rangka pemenuhan ikan laut dan bandeng sejumlah 150 ton per bulan.
Walaupun baru sebagian kecil atau 10 item yang telah kami lakukan sejak kami di-SK-kan pada tanggal 15 September 2015, Insya Allah ke depan dengan adanya bantuan pemerintah atau lembaga swasta lainnya terutama lembaga keuangan maka dengan kekuatan yang ada, baik pikiran maupun keiklasan Alhamdulillah persoalan nelayan dan petani tambak dapat kita selesaikan.
Ke depan organisasi ini dengan izin-NYA segera akan merampung sektor lain dari 6 (enam) sektor yang diberi mandat oleh Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk Aceh, misalnya sektor parawisata, pertanian dan sektor perkebunan. Sementara 3 (tiga) sektor lainnya sebagian kecil telah kami lakukan.
Pada tulisan ini kepedulian kita diarahkan ke sektor parawisata misalnya. Bagaimana mungkin parawisata di Aceh bisa kurang maju dibandingkan dengan parawisata daerah lain. Lihat saja, parawisata bahari di Aceh!  Dimana laut terbentang sepanjang mata nan pasir dan air yang begitu bersih tanpa polusi.  Udara begitu bersahabat serta hutan-hutan begitu hijau manatap kita.  Sungguh luar biasa keindahan alam yang diberikan sang pencipta kepada hambanya. Hamba-NYA saja yang sedikit bersyukur, kadang-kadang malah jadi kufur.
Begitu mata menatap lebih jauh lagi, sungguh sangat banyak sawah yang terbentang luas.  Sebuah pesona yang sangat dirindukan dan disukai oleh anak-anak negara Singapura.  Begitu juga adanya hujan sepanjang tahun di daerah kita membuat masyarakat tanah Arab terperangah dan hampir tak percaya. Mereka membayangkan  negaranya, di mana ketika ada hujan turun dari langit, itu artinya harta karun telah mendekat dengannya.  Ini adalah baru sepenggal  cerita terkait parawisata di bumi rencong Aceh.
Bagaimana kalau seandainya semua elemen masyarakat atau  stakeholder mempunyai kepedulian yang besar terhadap alam dan nasib masyarakat yang merindukan nasibnya bisa berubah dalam waktu yang tidak terlalu lama.  Untuk itu, kami sebagai P4UA siap berkolabori dengan Bapak-bapak/Ibu-ibu hari ini dan seterusnya, sebagai sebuah bentuk tanggungjawab dan amanah yang diberikan oleh masyarakat Aceh untuk kita sebagai pemimpin mereka.


Ditulis oleh : Sekretaris P4UA Drs. Zulkarnaini, M.Si; call pearson 081362211936, e-mail: galaksijoel@gmail.com dan pin BBM: 7EA35F0A, (Desember, 2015).

P4UA MENGAJAK

Sejak keluar Surat Keputusan dari Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk Aceh, tanggal 15 September 2015, nomor : 563/1707/2015 tentang Pembentukan Pengurus Pusat Penelitian dan Pengembangan Produktivitas UKM Aceh (P4UA) tahun 2015, kini P4UA telah mampu menyelesaikan berbagai terobosan terkait dengan peningkatan ekonomi masyarakat nelayan dan petani tambak.  Hal ini terwujud berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan yang dilakukan oleh pengurus P4UA yang terdiri dari mayoritas para akademisi, praktisi, pensiunan, tenaga konsultan dan PNS.
Berkat perjuangan dan tanpa kenal lelah, kami dari para akademisi dan pensiunan BI mengajak rekan-rekan agar dapat membeli saham yang dikeluarkan oleh unit usaha produktif P4UA.  Hasilnya sangat luar biasa, tidak hanya pengurus P4UA yang membeli saham tersebut, namun kawan-kawan non-P4UA juga ikut membantu untuk membeli saham yang kita hargakan sebanyak Rp 2.000.000,-  per lembar.
Uang yang sudah terkumpul, saat ini kami gunakan untuk pemberdayaan masyarakat/petani tambak di Desa Cinta Raja Kota Langsa Kabupaten Aceh Timur dengan pola bagi hasil.  Keberadaan P4UA di desa ini, selain mendampingi dan memperdayakan kelompok petani tambak juga menyiapkan nener (benih) ikan bandeng, pupuk dan obat-obatan. Sementara, masyarakat mempersiapkan tambak sebagai tempat pembesaran ikan bandeng dan nener.  Hasilnya dapat dibagi dalam 3 (tiga) bagian, yaitu: (a) 25% untuk penjaga/pengelola tambak, (b) 40% untuk pemilik tambak dan (c) 35% untuk P4UA, sesudah dipotong uang operasional. 
Kegiatan ini dilakukan dengan beberapa keputusan, antara lain: (1) agar tambak di Aceh yang tidak produktif karena beberapa alasan, kembali menjadi produktif (2) memberi pekerjaan kembali kepada masyarakat desa atau petani tambak di Aceh, (3) denyut ekonomi masyarakat desa di Aceh dapat kembali pulih, (4) budaya gemar makan ikan basah dapat normal kembali dan (5) terjalin kerjasama yang baik antara pemerintah dengan masyarakat di desa, dan lain-lain.
Target kami, akhir Pebruari 2016 P4UA sudah dapat memenuhi sebagian kuota ikan bandeng beku yang berjumlah 350 ton per bulan untuk dikirim ke Pulau Jawa.  Selain itu, P4UA dalam waktu dekat akan bekerjasama dengan CV Na Rahmat di Idi Aceh Timur agar dapat menerima ayam potong dari unit usaha produktif P4UA.  Ayam potong tersebut dapat digunakan sebagai bahan dasar bakso, otak-otak, barger, dimsum, somai, empek-empek dan sebagainya, selain bahan baku ikan yang sudah ada dan persediaanya sangat melimpah di Kota Idi.
Bersamaan MEA berlaku, kami dari P4UA mengajak kawan-kawan, terutama pihak  Gubernur Aceh, DPRA Aceh, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Aceh, Bappeda Aceh, Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh, Dinas Perindustrian Aceh, Dinas Peternakan Aceh, Dinas Pertanian Aceh, Dinas Perkebunan Aceh, Dinas Parawisata Aceh dan Dinas Koperasi dan UKM Aceh agar sama-sama membantu serta diiringi keiklasan yang tulus guna mengangkat derajat martabat dan nasib para nelayan dan petani tambak di Aceh.
Kami dari P4UA siap berkolabori dengan Bapak-bapak/Ibu-ibu pada hari ini dan seterusnya, sebagai sebuah bentuk tanggungjawab dan amanah yang diberikan oleh masyarakat Aceh untuk kita sebagai pemimpin mereka.  Ajakan ini dihimbau terkait keberhasilan yang telah dicapai oleh P4UA dalam kurun waktu 3 (tiga) bulan sejak di SK-kan dan ke depan P4UA akan dapat bekerja lebih maksimum lagi. Insya Allah.


Ditulis oleh : Sekretaris P4UA Drs. Zulkarnaini, M.Si; call pearson 081362211936, e-mail: galaksijoel@gmail.com dan pin BBM: 7EA35F0A, (Desember, 2015).

P4UA BERKIBAR TERUS

Setelah team kami berhasil dengan (1) memelihara ayam potong di Kota Jantho, (2) memberdayakan kelompok Arizka terkait pengolahan minuman dan makanan berbahan baku rumput laut, dan (3) mengirim ikan asin yang sudah dikemas, abon dari ikan kambing-kambing/leubim, ikan kayu.  Kini, semenjak lahirnya Pusat Penelitian dan Pengembangan Produktivitas UKM Aceh (P4UA) keberhasilan lembaga ini berkibar lagi, dalam bentuk (1) terwujudnya kesepakatan atau tanda tangan kerjasama dengan sebuah perusahaan ikan dan seafood di Bekasi terkait penerimaan ikan bandeng dari Aceh sebanyak 150 - 200 ton per bulan, (2) terbentunya kerjasama budidaya bandeng di Langsa Aceh Timur, (3) terlaksananya program sosialisasi bandeng dari Aceh Tamiang sampai dengan Bireun (Aceh Jeumpa) dan (4) pengadaan nener (bibit) bandeng, pupuk dan obat-obatan untuk 17 ha tambak/neuheun di Desa Cinta Raja Kota Langsa,  Aceh Timur dan (5) menjadi pelayanan kegiatan pemasaran produk makanan dan minuman berbasis rumput laut yang diproduksi oleh CV Na Rahmat Kota Idi  melalui marketing online.
Baru-baru ini, ada sebuah perusahaan lain di Kota Kerawang, sangat berkeinginan untuk bekerjasama dengan P4UA dalam rangka pemenuhan ikan laut dan bandeng sejumlah 150 ton per bulan.  Artinya dalam waktu 3 (tiga) bulan lahirnya P4UA kita telah sanggup meyakinkan perusahaan di Pulau Jawa untuk mengambil bandeng dengan ukuran 4-6 ekor/kg, 6-8 ekor/kg dan 8-10 ekor/kg di Aceh.
Ke depan Insya Allah, dengan adanya dukungan pemerintah atau swasta terutama lembaga keuangan maka P4UA akan mengibarkan sayap terus guna menjawab berbagai persoalan ekonomi yang melilit kaum lemah atau masyarakat kelas bawah di daerah Aceh Loen Sayang. 
Kami juga akan berjanji sayap kami tidak hanya berkibar di dalam negeri, namun juga akan terbang ke berbagai perusahaan besar lainnya di luar negeri, khususnya yang bergerak di hasil laut dan ikan bandeng.  Kerjasama ini dilakukan agar setiap perusahaan dapat menerima berbagai produk UKM dan non-UKM Aceh terkait dengan hasil laut dan bandeng.  
Selain itu, P4UA juga akan memperdayakan dan mendampingi kelompok petani tambak seluruh Aceh guna mencukupi kuota ikan bandeng sebanyak 350 ton per bulan yang diambil oleh 2 (dua) buah perusahaan besar di Pulau Jawa.  Diharapkan pertengahan tahun 2016 semua pekerjaan di atas harus kami rampungkan dan mempunyai kualitas serta mempunyai nilai tambah sesuai standar yang telah ditetapkan. 

Ditulis oleh : Sekretaris P4UA Drs. Zulkarnaini, M.Si; call pearson 081362211936, e-mail: galaksijoel@gmail.com dan pin BBM: 7EA35F0A, (Desember, 2015).

P4UA SIAP MENJADI MARKETING ONLINE

Adanya makanan berbasis rumput laut seperti bakso, otak-otak, barger, dimsum, somai, empek-empek dan sebagainya, dimana campuran dasarnya daging ikan tamban, ikan bulan-bulan, atau ikan bandeng serta rumput laut dan dilakukan di Desa Gampong Baro Kota Idi Rayeuk Kabupaten Aceh Timur, maka kegiatan P4UA terkait marketing on line bertambah begairah di dunia maya.  Selain itu, di Kota yang sangat dekat dengan bibir pantai itu juga telah diproduksi  berbagai jenis minuman berbasis rumput laut, seperti juice alpukat rumput laut, sari kurma rumput laut, sirup rumput laut, sari jagung rumput laut dan coklat rumput laut sehingga menambah daftar kerja marketing on line P4UA.  Semua jenis makanan atau minuman berbasis rumput laut yang diproduksi di Kota Idi Rayeuk-Aceh Timur adalah upaya yang dilakukan oleh sebuah perusahaan CV Na Rahmat, guna menciptakan lapangan kerja dan pemenuhan program Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)  “Gemarikan” untuk generasi sehat dan cerdas khususnya pada jenis makanan olahan ikan dan rumput laut.
Sekali lagi kami tegaskan, bahwa keberadaan P4UA disini hanya bertindak sebagai bentuk pelayanan kegiatan pemasaran produk makanan dan minuman berbasis rumput laut yang dilakukan  melalui media internet  yang terhubung secara aktif (marketing on line) dan disiapkan untuk pembeli dalam kapasitas besar.  Namun, makanan olahan ikan dan minuman ini dapat juga didistribusikan kepada pengusaha lainnya yang bertindak sebagai distributor, atau mitra kerja pada produk makanan dan minuman berbasis rumput laut.

Seiring berjalan waktu, CV Na Rahmat juga memanfaatkan bahan baku ikan yang melimpah di Kota Idi guna menciptakan produk baru yang sifatnya inovatif berupa olahan makanan dan minuman berbasis rumput laut untuk dipasarkan ke berbagai kota di Aceh dan tidak menutup kemungkinan dipasarkan juga ke luar negeri.  Peran kreatif P4UA disini terbatas pendampingan dalam bentuk marketing on line pada CV Na Rahmat, agar program ekonomi terkait produk setengah jadi atau produk jadi yang dicetuskan oleh Jokowi dapat dilepaskan ke luar negeri, bukan justru bahan mentah/baku--ikan segar atau ikan beku--yang berakibat pada kerugian negara dan mempersempit lapangan kerja di Indonesia.

Ditulis oleh : Sekretaris P4UA Drs. Zulkarnaini, M.Si; call pearson 081362211936, e-mail: galaksijoel@gmail.com dan pin BBM: 7EA35F0A, (Desember, 2015).


P4UA MULAI MELANGKAH

Sejak terbentuk 15 September 2015, Pusat Penelitian dan Pengembangan Produktivitas UKM Aceh (P4UA) binaan Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk Aceh maju selangkah lagi. Jika sebelumnya, P4UA telah bekerjasama dengan salah satu perusahaan/holding group fish & seafood  guna pemenuhan ikan bandeng dengan berbagai ukuran 4 s.d 10 ekor per kg dalam jumlah 150 - 200 ton per bulan. Kini, P4UA telah sanggup meyakinkan perusahan tersebut guna diizinkan mengambil ikan di cold storage Kota Bekasi dalam jumlah yang cukup, untuk selanjutnya didistribusikan ke rumah-rumah pegawai perkantoran, sekolah kedinasan, kantor yayasan dan tempat keramaian lain pada berbagai sudut kota Jakarta, Bogor, Bandung tanpa harus mengeluarkan modal awal di depan.
Kami beranggapan bahwa, ini sebuah prestasi yang luar biasa.  Bagaimana tidak keberhasilan di Kota Idi,  bermodal sebuah kepercayaan dan  bersambung ke Kota Bekasi juga bermodal kepercayaan. Allah sungguh sangat adil dan selalu menolong hamba-Nya yang murah hati dan berjiwa ikhlas.
Senin, 30 November 2015 P4UA kembali membantu sekaligus mendampingi masyarakat Desa Cinta Raja Kota Langsa dengan memberi nener (benih) bandeng sebanyak 200.000 ekor untuk kebutuhan 17 ha tambak.  Dua minggu sebelumnya, P4UA juga membagikan brosur yang isinya P4UA memerlukan ikan bandeng dalam jumlah besar dengan ukuran 4 - 6 ekor per kg, 6 - 8 ekor per kg dan 8 - 10 ekor per kg.  Ikan bandeng tersebut kami terima di cold storage yang berkapasitas 300 ton di pelabuhan Kota Idi, tepatnya di Desa Keutapang Mameh, Idi Rayeuk, Aceh Timur.
Walaupun ini sebagai langkah awal, namun hingga saat ini P4UA tidak berfokus pada sisi komersial, tetapi pemberdayaan masyarakat desa (petani tambak dan nelayan) dan peningkatan ekonomi masyarakat kecil adalah target yang harus kami kejar.  Pencapaian target ini  adalah bentuk lain dari tanggungjawab kita sebagai khalifah sekaligus terbinanya moral anak bangsa disamping permasalahan UKM dapat terselesaikan dengan segera, khususnya di Aceh.
Tak terbantahkan memang, permasalahan UKM dari dulu hingga hari ini selalu saja berputar pada (1) kurangnya permodalan, (2) kesulitan dalam pemasaran, (3) struktur organisasi sederhana dengan pembagian kerja yang tidak baku, (4) kualitas manajemen rendah, (5) SDM terbatas dan kualitasnya rendah, (6) kebanyakan tidak mempunyai laporan keuangan, (7) aspek legalitas lemah dan (8) rendahnya kualitas teknologi. Akibatnya, sudah dapat kita tebak yaitu (a) lemahnya jaringan usaha, (b) keterbatasan kemampuan penetrasi pasar dan diversifikasi pasar, (c) skala ekonomi terlalu kecil sehingga sukar menekan biaya, (d) margin keuntungan sangat kecil dan (e) tidak memiliki keunggulan kompetitif.  Oleh karena itu, diperlukan suatu strategi yaitu mengintegrasikan keunggulan atau potensi lokal UKM dan peluang-peluang eksternal yang ada, berdasarkan pada pendekatan kualitatif dan kuantitatif.
Ayo ayunkan langkah demi masyarakat……

Ditulis oleh : Sekretaris P4UA Drs. Zulkarnaini, M.Si; call pearson 081362211936, e-mail: galaksijoel@gmail.com dan pin BBM: 7EA35F0A, (Desember, 2015).